Musisi Jazz Bicara Maratua: Peduli Lingkungan, Dorong Kesenian Khas

Pergelaran musik Maratua Jazz and Dive Fiesta (MJDF) tak melulu bicara musik asal Amerika Serikat tersebut. Di sela-sela MJDF, artis pengisi menikmati keindahan alam pulau di beranda Indonesia tersebut.

NAMUN, menurut mereka, kesadaran masyarakat menjaga lingkungan masih kurang. Tata, vokalis Idang Rasjidi Syndicate mengatakan, keindahan pulau harus ditambah hasrat menjaga alam. Ia melihat sendiri sampah mengapung di sekitar pulau saat melakukan snorkeling. “Mulai botol hingga popok bayi mengapung di laut,” ujarnya.

Ironisnya, saat sampah-sampah itu mengapung, terlihat beberapa penyu hijau berseliweran. “Sayang sekali jika sampai termakan penyu,” terangnya. Makanya, saat tampil bersama Idang Rasjidi Syndicate, perempuan bertubuh mungil itu selalu menyuarakan agar tidak membuang sampah di laut. Kalau tak segera sadar, umur objek wisata di Maratua tak bakal panjang. “Sayang sekali kalau sampai begitu,” ujarnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, lanjut Tata, pemerintah harus memberi sosialisasi mengenai lingkungan terhadap para warga setempat.  “Mungkin bisa melakukan workshop lingkungan,” ucapnya.

Buat Kesenian Asli Maratua

Diwartakan sebelumnya, Idang Rasjidi sebelum tampil di MJDF pada 11–12 September lalu sudah datang ke Maratua pada Januari lalu. Dalam kunjungannya pada awal tahun tersebut Idang sempat mengumpulkan beberapa pemuka tiga desa di Maratua. Ia mengatakan, harus ada daya tarik sendiri dari Maratua selain keindahan alam.

“Saya mencontohkan pada saat itu buat tarian baru,” ujarnya. Idang mengatakan, ini kebutuhan jangka panjang. Sekarang memang hanya fase pengenalan tapi setelah 20 tahun, tarian baru tersebut jadi tarian asli. Selain itu, Maratua belum punya oleh-oleh khas. Nah, hal itu bisa dimulai dengan mengundang pembatik dari luar pulau untuk kemudian mengajari warga setempat. “Dalam jangka panjang kan akan muncul motif khas Maratua, alhasil pulau ini punya motif kain khas,” terangnya. (*/fch/bby/k9)

Tayang di http://kaltim.prokal.co/read/news/243888-peduli-lingkungan-dorong-kesenian-khas