Nyebur Terus di Maratua – Media Indonesia

Nyebur Terus di Maratua – Media Indonesia

SENJA itu, Pulau Maratua telah pamer kemolekannya dari kejauhan. Air laut nan biru, pasir putih, dan deretan pohon kelapa yang melambai-lambai seolah memanggil kami segera merapat. Pengemudi kapal cepat yang kami sewa dari Tarakan membawa kami merapat ke Dermaga Maratua Paradise Resort.

Air laut jernih hingga ke dasar. Ikan warna-warni berbagai ukuran bebas berseliweran. Para turis asyik berenang di sekitar dermaga kayu itu. Keelokan pemandangan dari resor itu seperti memupus kelelahan kami setelah terguncang-guncang selama 3,5 jam di atas kapal.

Salah satu rekan kami rupanya tidak tahan dengan godaan. Ia langsung berganti pakaian renang dan menceburkan diri dalam jernihnya air laut. Byuurr. “Ayo lompat. Segar,” teriaknya mengajak kami.

Pulau Maratua termasuk salah satu dari 31 kepingan surga yang terhampar di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Saya berkesempatan menikmati keindahan pulau yang terletak di Laut Sulawesi itu untuk menyaksikan Maratua Jazz and Dive Fiesta yang digelar pada penghujung tahun ini, pergelaran jazz pertama yang digelar di salah satu pulau terluar Indonesia itu.

Pulau menawan itu biasanya ditempuh dari Pelabuhan Tanjung Batu, Berau, menggunakan kapal cepat selama 3 jam. Namun, hari itu, kami memilih jalur Balikpapan dan Tarakan lantaran Berau tidak bisa dilalui akibat tertutup asap.

Kami menyewa kapal dari Dermaga Tarakan dengan harga Rp10 juta pulang pergi. Selain di Dermaga Paradis, demikian penduduk setempat menyebutnya, pengunjung juga bisa merapat di Dermaga Desa Teluk Harapan.

Namun, hari itu kami kurang beruntung. Penginapan yang tersedia di resor milik warga Malaysia itu telah penuh. Kami pun harus memendam kekecewaan tidak bisa menyaksikan keindahan pemandangan laut dari balik pintu kamar. Akhirnya, kami memilih tinggal di homestay sekitar Teluk Harapan, desa terdekat dengan resor, dengan harga Rp250 ribu per malam.

Bertemu ubur-ubur jinak kakaban
Esok harinya, kami hanya punya waktu hingga petang untuk bisa menjelajah spot-spot menarik Pulau Maratua dan sekitarnya. Sebab sorenya, kami harus menyaksikan konser jazz. Apalagi, kami telah melewatkan penampilan musisi jazz kondang Idang Rasidi, Syaharani, dan rekan-rekan satu hari sebelumnya.

Dengan pertimbangan waktu yang tersedia dan pasang surut air laut, akhirnya kami memutuskan mengunjungi Pulau Kakaban. Kami sangat penasaran dengan penuturan Lina, petugas dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menetap di pulau itu, akan keberadaan Danau Kakaban yang airnya jernih dan ubur-ubur jinak.

Sekitar pukul 08.30, kami berangkat ke Pulau Kakaban dipandu Lina dan dua rekan dari Maratua Eco Divers Club. Kami harus menyewa speedboat dengan harga Rp500 ribu, dan sewa perlengkapan snorkeling Rp50 ribu per unit.

Hanya butuh waktu setengah jam dari dermaga Paradise Resort menuju Pulau Kakaban. Setelah membayar Rp25 ribu per orang di gerbang dermaga, kami memasuki jalan setapak terbuat dari kayu yang menembus hutan lebat.

Sekitar 15 menit perjalanan menyusuri jalan naik dan turun, kami disuguhi sebuah pemandangan menakjubkan. Danau sangat luas dengan air biru hijau dan pohon-pohon lebat di tepinya. Air danau sangat jernih sehingga mata telanjang kami mampu menembus dasarnya. Ratusan ikan dan ubur-ubur hilir mudik seolah menyambut kedatangan kami.

Air danau yang jernih bak memiliki gaya magnet. Tanpa komando kami berenam segera mengambil alat snorkeling dan menceburkan diri ke dalamnya. Air danau yang merupakan campuran air hujan dan air laut terasa dingin menyegarkan.

Lewat snorkeling, kami bisa melihat dasar danau yang juga bukan lumpur melainkan didominasi pasir putih.

Benar saja, ubur-ubur di danau itu begitu jinak dan tidak menyengat. Kami pun bermain-main dengan ratusan makhluk yang terasa lembut dan kenyal saat dipegang itu. “Mohon jangan diangkat ke udara, ubur-uburnya bisa mati,” teriak Eldin, salah satu pemandu kami.

Konon menurut sejumlah literatur, danau ini merupakan atol yang naik ke permukaan. Makhluk hidup yang terperangkap di dalamnya lambat laun menyesuaikan diri, termasuk ubur-ubur.

Lantaran tidak ada lagi predator alaminya, ubur-ubur di danau ini pun kehilangan daya sengatnya. Sekitar 1 jam kami berenang dan puas bermain-main dengan ubur-ubur, kami pun menyudahi kunjungan ke danau ini.

Laguna Kehe Daing

Tujuan selanjutnya, pengemudi perahu memutari pulau itu dan membawa kami ke sebuah tempat di tepi pantai pulau tersebut. “Itu tujuan kita,” teriak Eldin menunjuk ke sebuah lubang kecil yang dari dalamnya mengalir air jernih, tidak jauh dari speedboat berhenti.

Eldin menerangkan lubang itu dinamai Kehe Daing, artinya lubang ikan. Itu disebabkan banyak ikan yang keluar masuk dari dalam tempat itu ke laut. “Di dalamnya ada laguna yang sangat indah,” sambungnya sebelum saya sempat bertanya lebih jauh.

Tidak ada dermaga di sini. Speedboat tidak bisa menepi karena pantainya dangkal. Jadi kami harus turun agak jauh dan berjalan di dalam air laut.

Kami harus merunduk untuk memasuki lubang itu. Badan kami terendam hingga sepinggang. Akibatnya, kaus kami pun basah. Kami harus berhati-hati melangkah supaya tidak terpeleset atau tercebur. Namun, hanya sekitar 10 meter, kami berjuang melewati gua tersebut, di depan kami sebuah surga kecil terbentang.

Sebuah danau berair biru yang tenang dan pasir putih terhampar di hadapan kami begitu keluar dari Kehe Daing. Bukit-bukit yang dipenuhi pohon bak menjadi benteng laguna indah itu. Saat kami mendekati danau tersebut, karang-karang hidup tampak jelas terlihat. Mereka bisa disentuh tanpa kita harus menyelam.

Tomi, pemandu kami yang lain, mengatakan saat itu sedang surut. Jadi ada beberapa bagian yang menjadi dangkal. Karang-karang hidup bisa dilihat tanpa harus menggunakan alat snorkeling. Namun karena surut, kami tidak melihat banyak ikan. “Mereka keluar ke laut melalui lubang tadi saat air surut,” jelas Tomi. Lagi-lagi kami tidak tahan untuk merasakan airnya yang jernih dan lantas menceburkan diri.

Terjun di Danau Haji Mangku
Kami menikmati laguna itu sekitar setengah jam, sebelum kembali ke Dermaga Maratua Paradise Resort. Giliran destinasi Pulau Maratua lainnya yang akan kami jelajahi.

Di pulau ini, menurut Tomi, ada beberapa danau yang bisa menjadi objek wisata, yakni Danau Haji Mangku, Danau Haji Buang, dan Danau Tanah Bamban. “Di Danau Haji Buang juga bisa ditemukan ubur-ubur tanpa penyengat seperti di Pulau Kakaban,” tuturnya.

Tomi melanjutkan, di Pulau Maratua, ada juga ratusan gua cantik yang bisa dijelajahi dan tersebar di empat desa. “Selain wisata laut, kami dari Maratua Eco Divers Club menawarkan wisata perjalanan darat ke danau-danau dan gua-gua tersebut,” tuturnya.

Hasrat hati rasanya ingin menjelajah gua-gua itu. Hari itu kami memutuskan untuk mengunjungi Danau Haji Mangku yang terdapat di Desa Payung-Payung. Tempat itu dinamakan demikian, menurut Tomi, karena pemiliknya Haji Mangku.

Beberapa rekan Tomi dari Maratua Eco Divers Club datang menjemput kami dengan pikap menuju Desa Payung-Payung, tempat danau itu berada. Sepanjang perjalanan terlihat geliat pembangunan di pulau itu. Sejumlah alat berat meratakan tanah untuk membuat jalan. Aktivitas pembangunan bandar udara juga tengah dikebut.

Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, kami sampai di tepi pantai. Kami lantas melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri tepi pantai yang surut. Kami harus berjalan dengan hati-hati supaya tidak terantuk pohon dan tidak terpeleset.

Hembusan angin laut dan sengatan terik matahari berpadu menemani perjalanan kami. Hampir 45 menit berjalan menyusuri pantai dan menembus kerimbunan pohon, akhirnya kami sampai di danau tujuan.

Yang disebut danau ini ternyata ialah sebuah ceruk yang lebar dan memanjang dan di dalamnya berisi air. Jernihnya air danau ini memuat dasarnya bisa dilihat. Saat kami tiba, beberapa orang tengah asyik berenang di dalamnya.

Untuk bisa berenang di danau ini, ada dua cara. Pertama menuruni tebing setinggi sekitar 5 meter. Yang kedua dengan cara ekstrem, yakni melompat dari ketinggian.

Byuuuur, rupanya beberapa rekan dari Maratua Eco Divers Club memilih cara ekstrem. Mereka bergantian melompat dari tepi tebing. Seru sepertinya. Beberapa rekan memilih berenang dengan menuruni tebing. Di tengah terik matahari, berenang di danau yang dikelilingi rimbun pohon sungguh menyegarkan.

Sekitar 1 jam berenang, kami mulai merasakan lapar menyerang. Rupanya jam makan siang telah terlewat. Kami memutuskan menyudahi berenang dan kembali ke Desa Teluk Harapan, tempat kami menginap. Hari itu, perjalanan kami ditutup dengan makan siang bersama di tepi pantai desa tersebut. Menunya ikan laut bakar dan goreng yang baru ditangkap pada malam harinya. Sedap! (M-1 )

Artikel ini tayang di http://mediaindonesia.com/read/detail/9820-nyebur-terus-di-maratua

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.