Tahun Ini Gelar Event Musik Jazz, Prioritaskan Jadi KEK

Tahun Ini Gelar Event Musik Jazz, Prioritaskan Jadi KEK

PROKAL.CO, Lengkap, menjadi kata yang pas menggambarkan Pulau Maratua sebagai destinasi wisata unggulan. Tidak hanya karena banyak memiliki objek wisata, pulau terluar di Berau yang eksotis tersebut, masih menyimpan sejuta misteri.

RIO TAUFIQ ADAM, Tanjung Redeb

MESKI gagal digelar 2016 lalu, perhelatan Maratua Jazz dipastikan kembali dilaksanakan tahun ini. Kepastian itu didapat oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau Mappasikra Mapaseleng.

Ia menjelaskan, road show Maratua Jazz akan mulai dilakukan pada akhir Maret nanti. Ditambah juga, event Jazz di Pasar Barambang, Gunung Tabur yang merupakan satu rangkaian menuju puncak acara di Pulau Maratua, Oktober nanti.

”Jika berhasil dijalankan rencananya event Maratua Jazz bakal mendatangkan Glen Fredly. Semoga saja pihak penyelenggara berhasil menggelar event tersebut,” ucapnya.

Upaya menggelar pementasan musik berskala internasional tersebut, merupakan salah satu cara menarik minat wisatawan datang ke pulau eksotis tersebut.

Acara bertajuk Maratua Jazz and Dive Fiesta tersebut, sejatinya tidak hanya sekadar menampilkan para musisi jazz Tanah Air. Namun, juga menawarkan berbagai kegiatan yang dapat dilakukan oleh wisatawan. Seperti menyelam tentunya, mendaki, hingga bersepeda mengelilingi pulau tersebut.

”Jalanan juga sudah bagus. Nah, acara itu nanti kita kolaborasikan dengan kegiatan lainnya,” terangnya.

Membahas Maratua lekat dengan kegiatan outdoor. Karena selain menyelam di turtle point atau shark city, wisatawan bisa mendaki ke Panji-Panji yang merupakan puncak tertinggi pulau tersebut. Dari Panji-Panji, wisatawan dapat melihat sekeliling Pulau Marauta dari ketinggian. Bahkan Pulau Nabuko yang berada di ujung pulau pun, kelihatan jelas dari Panji-Panji.

Bagi sebagian masyarakat Maratua, Panji-Panji dipercaya adalah tempat berkumpul roh nenek moyang dari berbagai kampung di sana. Sehingga, tempat tersebut masih dianggap sakral bagi sebagian masyarakat. Bahkan, dilarang mengucap kata kasar dan kotor ketika hendak melakukan pendakian ke Panji-Panji yang ketinggiannya diperkirakan sekitar 400 meter di atas permukaan laut.

”Cerita-cerita masyarakat itu yang membuat Maratua semakin menarik. Belum lagi cerita-cerita pulau-pulau di sekitarnya, seperti Kakaban dan Sangalaki. Seharusnya cerita-cerita dari masyarakat tersebut yang harus dikemas bersama dengan promosi wisata sehingga menambah nilai jual Pulau Maratua,” paparnya.

Tapi bukan tugas Disbudpar saja yang menjual keunikan Maratua kepada wisatawan. Agen-agen travel dan pelaku di bidang pariwisata pun memiliki peran penting. Terlebih dengan bakal dilaksanakannya Maratua Jazz. Penjualan paket wisata pada event tersebut juga perlu dilakukan oleh agen-agen travel.

Untuk urusan ini, Mapasikra-sapaan akrabnya- telah mengkomunikasikan dengan Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Berau dan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) untuk menjual paket wisata pada perhelatan tersebut.

Destinasi wisata memang menjadi nilai tawar bagi Pulau Maratua. Terlepas dari itu, kesiapan infrastruktur pun juga perlu dilakukan. Dan saat ini, Maratua sudah jauh lebih siap dibandingkan beberapa tahun silam. Ditambah tahun ini, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Provinsi Kalimantan Timur akan membangun dermaga kayu di Teluk Harapan dengan dana senilai Rp 4 miliar. Kucuran dana segar tersebut, diharapkan mampu mempercantik wajah Pulau Maratua ke depannya.

Karena, Pulau Maratua tidak hanya di-design menjadi destinasi wisata unggulan, namun juga diajukan menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK).

Mantan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Berau tersebut yang kini kewenangannya telah beralih ke provinsi pun, menerangkan bahwa Maratua menjadi KEK merupakan prioritas utama. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomi masyarakat di sana.

”Ini yang terpenting untuk segera diwujudkan. Karena KEK dampaknya besar sekali untuk masyarakat di Maratua,” jelasnya.

Kekayaan Maratua memang tidak hanya pada lautnya saja, daratannya pun menyimpan berbagai sumber daya alam melimpah. Nah, kekayaan ini yang harus tetap dijaga.

Ketua ASITA Berau Al Hamid menerangkan, wajah Maratua sebagai destinasi unggulan juga tidak boleh lepas dari budaya masyarakatnya. Untuk itu diperlukan grand design untuk pembangunan pulau tersebut.

”Perlu dilakukan rancangan besar untuk Maratua. Tidak hanya sekadar menyediakan infrastruktur. Memang dengan adanya bandara pasti akan membantu peningkatan ekonomi. Tapi aspek sosial masyarakat pun juga perlu dilakukan,” timpalnya.

Menurutnya, Maratua memiliki peluang untuk mengalahkan Maldives. Tidak hanya Pulau Nabuko atau Bakungan saja. Maratua pun juga ditata dengan baik, pasti memiliki nilai lebih.

Mapasikra pun setuju dengan hal ini. Menurutnya untuk melancong ke Maratua sangat layak jika dihargai mahal. Namun, ketersediaan infrastruktur yang memadai hingga pola pikir masyarakat juga harus ditingkatkan. Sehingga wisatawan tidak jera datang ke sana.

”Ini pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama-sama. Memang perlu kesadaran bersama. Sehingga Maratua mampu menjadi destinasi wisata unggulan tidak hanya untuk Berau, tapi Indonesia,” tandasnya. (*/app)

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.