Pergelaran Jazz Pertama di Etalase Indonesia, 18 Jam demi Maratua

PROKAL.CO, v>

MARATUA Jazz and Dive Fiesta (MJDF) sukses digelar pada 11–12 September lalu. Pergelaran musik jazz pertama di etalase Indonesia tersebut menyedot tiga ribu penonton dari berbagai kota, bahkan luar negeri.

Di balik suksesnya pergelaran musik tersebut, ada cerita menarik dari artis pengisi acara. Mereka mesti rela menempuh jalan darat Balikpapan-Berau untuk ke Maratua. Sebenarnya, mereka direncanakan terbang dari Balikpapan menuju Berau. Namun, apa daya. Kabut asap akibat kebakaran hutan membuat Bandara Kalimarau, Berau ditutup. Dua artis yang mesti menempuh jalan darat adalah Idang Rasjidi dan penyanyi jazz Syaharani.

Idang mengatakan, seharusnya mereka sampai di Maratua pada Rabu (9/9) sore pekan lalu. “Namun, karena kabut kami baru sampai tanggal 11,” ujarnya saat berbincang dengan Kaltim Post, beberapa jam setelah sampai di Pulau Maratua. Pianis jazz gaek tersebut mengatakan, perjalanan darat selama 18 jam itu membuatnya menemukan jawaban tanpa harus bertanya. Ia jadi tahu penyebab kabut asap. Ia melihat sendiri kebakaran hutan selama perjalanan. Idang dan Syaharani bersama kru mereka menumpang enam minibus dari Balikpapan.

Sampai di Pulau Maratua, Idang dan Syaharani sepakat perjalanan darat 18 jam ditambah empat jam jalur air, terbayar dengan keindahan alam Maratua. Selepas check sound di Kampung Bohe Bukut, Maratua yang menjadi lokasi acara, Syaharani langsung mengelilingi Pulau Maratua. “Maklum, kejar waktu. Seharusnya kami datang dua hari sebelum acara karena force majeure seperti ini harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin,” terangnya. Selain keliling pulau, Syaharani menyempatkan snorkeling.

SAMA-SAMA PENGALAMAN PERTAMA

Syaharani mengatakan, penampilannya di MJDF Sabtu (12/9) lalu adalah pengalaman pertamanya di Maratua. “Tempat ini adalah pengalaman baru buat saya. Kalian kasih tempat ke saya, saya akan berikan penampilan saya,” ujar Syaharani, yang naik pentas dalam formasi band Syaharani and Queenfireworks (ESQI:EF), sebelum memutus ucapannya itu dengan lagu Selalu Ada Cinta.

Syaharani yang mengenakan kostum serbaputih, menghibur para penonton bersama Donny Suhendra (gitar), Andy Gomez (keyboard), Bekti Sudiro (bas), dan Eddy Syakroni (drum). ESQI:EF berhasil membuat penonton lokal dan dari luar Maratua bergoyang. Warga lokal yang notabene belum pernah mendengar musik jazz awalnya malu-malu bergoyang. “Tapi, lama-lama mendengar asyik juga untuk bergoyang,” ucap Delly, warga Desa Bohe Bukut. Delly mengatakan, pengalaman pertama warga lokal disuguhi musik jazz bisa membuka mata warga.

Selain ESQI:EF, warga terhipnotis permainan jazz dengan sentuhan etnik band asal Samarinda, YK Samarinda. Grup yang terdiri dari Yusuf (vokal dan gitar), Iyin (keyboard), King (bas), dan Iqbal (drum) membawakan lima lagu, yaitu Song for Hudoq, Orang Utan, 3G, Paris Barantai, dan Sungai Mahakam. Yusuf senang permainan mereka bisa dinikmati warga Maratua. “Mungkin musik kami cukup familier di telinga mereka,” ujarnya. Yusuf berharap MJDF kembali digelar tahun depan. (*/fch/bby/k9)

Artikel ini tayang di http://kaltim.prokal.co/read/news/243804-pergelaran-jazz-pertama-di-etalase-indonesia-18-jam-demi-maratua